Bagaimana Proses Hujan Buatan Dilakukan?

Tahukah Kamu, Ulasan - 9 Oktober 2019, By galihsetio
mekanisme hujan buatan

Pada musim kemarau di tahun 2019 ini, ada banyak sekali musibah kebakaran hutan. Dan yang terparah dan menjadi sorotan nasional adalah kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan dan Sumatera.

karhutla sumatera dan kalimantan 2019
karhutla sumatera dan kalimantan 2019

Berdasarkan data dari BNPB atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana, terdapat 59 titik api di Riau, 222 titik api di Jambi, 366 titik api di Sumatera Selatan, 527 titik api di Kalimantan Barat, 119 titik api di kalimantan  Selatan dan yang terbanyak berada di Kalimantan Tengah, yaitu 954 titik api.

Banyak cara dilakukan pemerintah dan para relawan yang memadamkan titik api tersebut. Salah satu cara nya adalah dengan membuat hujan buatan. Apakah hujan buatan itu?

Baca Juga : Makanan Khas Jakarta yang Wajib Dicoba

Penjelasan Tentang Mekanisme hujan buatan

Simak penjelasan artikel di bawah ini tentang Mekanisme hujan buatan.

Pengertian Hujan Buatan

mekanisme hujan buatan
mekanisme hujan buatan

Hujan buatan merupakan cara manusia untuk membuat hujan dengan cara menaburkan Argentium Ladida, yang merupakan sebuah zat kimia kedalam awan untuk mempercepat pembentukan dari awan sehingga akan menghasilkan hujan turun ke bumi. Sebenarnya, hujan buatan ini bukanlah hujan dalam arti sebenarnya. Melainkan hanya membantu proses percepatan pembentukan awan untuk menurunkan hujan. Dan tentu yang menjadi syarat utama dari hujan buatan adalah terdapat awan yang terbentuk secara alami dan memiliki kandungan air yang cukup dan dibutuhkan juga angin dengan kecepatan yang rendah dan juga kondisi dari cuaca yang mendukung proses dari hujan buatan.

Mekanisme Hujan Buatan

Ada beberapa tahapan dalam proses pembuatan hujan buatan ini. Tahapan tersebut antara lain,

hujan buatan
hujan buatan
  1. Menaburkan bahan-bahan kimia berupa zat Glasiogenik, yang berupa Argentium Ladida atau Perak Ladida pada awan.
  2. Bahan-bahan kimia tersebut di taburkan dari atas ketinggian 4000 sampai dengan 7000 kaki dengan memperhitungkan juga dari kecepatan angin dan kondisi cuaca sehingga akan membawa awan ke daerah tempat yang direncanakan untuk terjadin nya hujan buatan.
  3. Proses penaburan zat dan bahan-bahan kimia tersebut dilangsungkan pada jam 7 pagi. Karena pembentukan awan secara alami akan terjadi di waktu pagi hari.
  4. Selain zat kimia Argentium Ladida, ditaburkan pula zat kimia lain yaitu zat Higroskopis. Zat tersebut berfungsi sebagai alat untuk menggabungkan butir-butir air di dalam awan. Zat Higroskopis terdiri atas beberapa zat seperti garam (NaCl), CaCl2 dan Urea. Zat Higroskopis ini berbentuk serbuk atau bubuk yang memiliki diameter butiran antara 10 sampai dengan 50 mikron.
  5. Semua bahan kimia tersebut di taburkan dari atas dengan menggunakan pesawat terbang, terkecuali untuk Urea. Urea tidak di taburkan dari atas pesawat terbang.
  6. Setelah proses penaburan berbagai zat tersebut, maka akan berkondensasi sehingga  memperbesar awan dan mempercepat proses terjadinnya turun nya air hujan.
  7. Setelah beberapa jam menaburkan zat kimia, barulah bubuk urea di taburkan pada pukul 12 siang. Karena pada jam tersebut akan banyak kelompok awan-awan kecil yang terbentuk secara alamiah.
  8. Setelah awan hujan terbentuk, maka taburkan kembali berupa larutan yang merupakan terdiri dari air, urea dan amonium nitrat yang memiliki perbandingan 4:3:1. Larutan tersebut berfungsi untuk mendorong awan supaya memperbesar butir-butir air yang tercipta sehingga akan mempercepat proses turun nya air hujan ke tempat yang telah direncanakan untuk hujan buatan.

Baca Juga : Konsep Sepakbola Filanesia Yang Harus Diketahui

Nah, itulah mekanisme dari hujan buatan. Semoga semua api di hutan Kalimantan dan di seluruh hutan di Indonesia yang terbakar segera padam

Bagaimana Proses Hujan Buatan Dilakukan? | galihsetio | 4.5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *